SICK BUILDING SYNDROME DI DALAM RUANGAN
Mata Kuliah : Penyehatan Udara A
Dosen : Mulyadi,SKM.,M.Kes
PENGARUH PENGGUNAAN AC (AIR CONDITIONER) TERHADAP FENOMENA
SICK BUILDING SYNDROME DI DALAM RUANG
Nur Fitrah
PO714221181095
DIV/IIIB
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D.IV
2020
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur atas kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga tugas makalah penyehatan udar dengan judul "PENGARUH PENGGUNAAN AC (AIR CONDITIONER) TERHADAP FENOMENA SICK BUILDING SYNDROME DI DALAM RUANG" ini dapat selesai dengan tepat waktu. Terwujudnya tugas ini, tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Mulyadi,SKM.,M.Kes selaku dosen pengampu pada mata kuliah penyehatan udara - B yang telah memberikan ilmu dan sumbangsinya dalam menyusun tugas ini.
2. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik moral maupun spiritual.
3. Teman-teman yang tercinta yang telah sabar untuk meluangkan waktunya untuk berdiskusi dalam menyusun makalah ini.
4. Dan semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Dalam tugas ini terdapat beberapa pembahasan materi mengenai pengendalian pencemaran udara indoor dan pengaruh penggunaan AC terhadap fenomena sick building syndrome. Namun dalam penyusunannya masih terdapat banyak kekurangan oleh karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan penulis dari semua pihak, agar kedepannya lebih baik lagi dalam menyusun tugas ini.
Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik itu penulis terlebih kepada pembacanya.
Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Makassar, 24 Oktober 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian sick Building Syndrome (SBS) .................................................... 2
B. Kenyamanan Termal......................................................................................... 4
C. Penggunaan Dari Air Conditioner (AC) ............................................................ 5
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian pengendalian pencemar udara ................................................... 8
B. Tinjauan tentang udara dalam ruangan (indoor)............................................ 8
C. Gejala yang dijadikan indikasi terhadap SBS..................................................13
D. Tips mencegah timbulnya SBS........................................................................13
BAB IV KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah salah satu negara yang beriklim tropis lembab. Karakteristik iklim tropis lembab adalah kelembaban yang cukup tinggi yakni 70-80% di musim panas dan 80-95% di musim hujan. Selain kelembaban yang tinggi, temperature udara juga berkisar antara 24oC pada malam hari dan 34oC pada siang hari. Dua hal ini mempengaruhi kenyamanan termal manusia. Kenyamanan termal adalah kondisi pikiran yang mengekspresikan kepuasan dengan lingkungan termisnya. Penghawaaan secara alami dan buatan dilakukan untuk menciptakan kondisi nyaman secara termis. Salah satu metode penghawaan buatan adalah dengan memanfaat Air Conditioning (AC). AC banyak digunakan pada bangunan yang memiliki keterbatasan dalam penyediaan ventilasi udara secara alami.
Penggunaan system pengahawaan udara mekanis selain memberikan keuntungan juga mendatangkan kerugian jika digunakan tidak sesuai dengan aturan penggunaannya. Air conditioner jika digunakan tidak sesuai dengan standar maka bisa menyebabkan terganggunya sistem udara yang ada pada bangunan. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab dari Sick Building Syndrome (SBS).
Sick building syndrome merupakan gangguan kesehatan yang dialami oleh seseorang di dalam suatu gedung atau bangunan. Hal ini terjadi karena buruknya ventilasi dan adanya kontaminasi polutan udara, baik berupa debu, asap, maupun polutan. Kualitas udara ruangan merupakan faktor perencanaan ruang yang bersifat penting karena orang menghabiskan sekitar 90% waktunya di dalam ruangan seperti rumah, bangunan umum dan kantor di mana konsentrasi polutan di dalam ruangan lebih besar daripada di luar ruangan terutama pada kawasan urban. Fenomena SBS dapat terjadi pada pengguna ruangan yang menggunakan pengahawaan buatan secara terus menerus, misalnya ruangan kerja di kawasan perkantoran.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kualitas udara dalam ruangan dengan kejadian Sick Building Syndrome di dalam suatu gedung perkantoran, laboratorium dan bangunan lainnya. Sebuah penelitian di Jakarta pada suatu kantor diperoleh beberapa kasus mirip SBS pada pegawainya seperti gejala iritasi mata sebesar 16,13% dan kelelahan sebesar 13,98% (Suganda, 2010). Sementara itu,penelitian serupa pada kantor yang juga berlokasi di Jakarta menghasilkan gejala SBS (gejala yang diderita 20–50% penghuni) yang terdeteksi secara akumulatif diantaranya yakni eye irritation, eye tiredness dan headache (Ardian & Sudarmaji, 2014). Lebih lanjut, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/FKM UI melakukan penelitian terdapat 350 karyawan dari 18 perusahaan di wilayah DKI Jakarta selama Juli-Desember 2016. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, 50% orang yang bekerja di dalam gedung perkantoran mengalami SBS. Keluhannya berupa sakit kepala, mudah lelah, gejala seperti flu, sesak napas, mata berair, sering bersin, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal (Guntoro, 2016 dalam Ruth, 2017).
Di Indonesia, kualitas udara terutama aspek fisika udara seperti suhu dan kelembapan memiliki hubungan secara signifikan terhadap SBS. Selain itu, kontrol ventilasi yang tidak baik merupakan faktor risiko terjadinya SBS (Hartoyo, 2016). Penggunaan system penyegaran udara mekanis atau Air Conditioning System pada bangunan kantor semakin meluas demi menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Akan tetapi efek samping dari penggunaan AC yang tidak sesuai anjuran penggunaan seringkali berdampak langsung bagi penggunanya, khususnya faktor kesehatan atau yang dikenal sebagai fenomena Sick Building Syndrom.
B. RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan sick building syndrome (SBS)?
Faktor apa yang dapat menimbulkan munculnya SBS dilingkup perkantoran?
Apa dampak yang ditimbulkan dari SBS?
Tindakan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah adanya SBS di lingkungan perkantoran?
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Sick Building Syndrome (SBS)
Sick Building Syndrome Istilah sindrom gedung sakit (Sick Buiding Syndrome) pertama diperkenalkan oleh para ahli di negara Skandinavia pada awal tahun 1980-an. Sick Building Syndrome (SBS) atau yang disebut juga dengan Tight Building Syndrome atau Building Related Illness atau Bulding Related Occupant Complaint Syndrome adalah situasi dimana penghuni gedung (bangunan) mengeluhkan permasalahan kesehatan dan kenyamanan yang akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, namun gejalanya tidak spesifik dan penyebabnya tidak dapat diidentifikasikan (EPA, 1991). Lebih lanjut, EPA mengemukakan bahwa sindrom ini timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan seseorang dalam sebuah bangunan, namun gejalanya tidak spesifik dan penyebabnya tidak bisa diidentifikasi. Sick Building Syndrome adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung atau bangunan, yang dihubungkan dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak terdapat penyakit atau penyebab khusus yang dapat diidentifikasi. Keluhan-keluhan tersebut dapat timbul dari penghuni gedung pada ruangan atau bagian tertentu dari gedung tersebut, meskipun ada kemungkinan menyebar pada seluruh bagian gedung . Menurut website Indoor Air Quality, SBS bisa diartikan sebagai situasi di mana muncul gejala-gejala penyakit yang berhubungan dengan kondisi di dalam ruangan kantor, di mana gejala penyakit itu tidak bisa diidentifikasikan secara jelas dan bergantung pada lama waktu yang dihabiskan didalam kantor. Kejadian SBS seringkali dikaitkan dengan kondisi gedung, khususnya diakibatkan oleh kualitas udara yang buruk. Berbagai bahan pencemar (kontaminan) dapat mengganggu lingkungan udara dalam gedung melalui empat mekanisme utama, yaitu gangguan sistem kekebalan tubuh (imunologik), terjadinya infeksi, bahan pencemar yang bersifat racun (toksik), bahan pencemar yang mengiritasi dan menimbulkan gangguan kesehatan Gangguan sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh konsumsi zat gizi. Sehingga meningkatkan ketahanan fisik dan meningkatkan produktifitas kerja, di samping membantu mengurangi infeksi. Sedangkan bahan kimia yang bersifat racun (toksik) lebih banyak diserap oleh orang usia muda dan tua di banding pada orang dewasa. Biasanya sulit untuk menemukan suatu penyebab tunggal dari syndrome gedung sakit atau SBS. Penyebab utama SBS adalah bahan kimia yang digunakan manusia, jamur pada sirkulasi udara serta faktor fisik seperti kelembaban, suhu dan aliran udara dalam ruangan, sehingga makin lama orang tinggal dalam sebuah gedung yang sakit akan mudah menderita SBS. Penyebab lain dari SBS yaitu kualitas ventilasi, zat pencemar kimia yang berasal dari dalam dan luar bangunan, zat pencemar biologi dan faktor lingkungan. Faktor yang mempengaruhi SBS adalah kenaikan usia (semakin tua usia risiko untuk terjadi gejala eye irritation dan eye tiredness serta PSI (personal symptom index) semakin menurun, namun risiko menderita kasus SBS semakin meningkat). Aliran udara yang buruk mendatangkan masalah pada beberapa aspek iklim dalam ruangan yang secara langsung mengganggu kesehatan penghuni. Suhu udara yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan gangguan kesehatan berupa heat cramps (penyakit ini ditandai dengan otot tubuh yang kejang-kejang dan perut yang sakit), heat exhaustion (tubuh kehilangan banyak cairan); heat stroke (pengeluaran keringat yang terganggu); heat collapse (terjadi karena pekerja yang melakukan aktivitas di lingkungan kerja yang panas dan kurang bergerak serta terlalu lama berada pada kondisi yang diam); heat rashes (kulit menjadi basah dan lembab); dan heat fatigue (keadaan ini terjadi akibat pajanan panas karena tidak adanya proses aklimatisasi atau penyesuaian diri yang baik antara pekerjaan dengan lingkungan kerja yang panas). Sedangkan suhu udara yang terlalu rendah juga menyebabkan gangguan, diantaranya: hypothermia (penurunan suhu tubuh dari suhu normal; dehidrasi (gangguan yang terjadi pada keseimbangan cairan atau air dalam tubuh seseorang); dan kulit kering. Selain suhu udara, ketidakseimbangan kelembaban udara juga memberikan gangguan kesehatan diantaranya udara yang mengandung kelembaban tinggi akan membuat kulit terasa lengket dan mengendap di dinding dan apabila kelembaban udara dalam ruang kerja <40% menjadikan udara menjadi kering akan menyebabkan mata pedih, kulit bersisik, bibir kering, dan timbul listrik statis (Suma’mur dalam Ruth, 2009). Selain faktor iklim, airan udara yang buruk juga menyebabkan beberapa poluutan kimia (mis. VOCs) yang sifatnya berbahaya bagi kesehatan tidak tersirkulasi dengan baik ke luar ruangan.
Efek kesehatan yang ditimbulkan dari VOCs adalah sakit kepala, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Bila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, beberapa jenis organik bahkan dapat menyebabkan kanker. Pencegahan Sick Building Syndrome harus dimulai dari sejak perencanaan sebuah gedung untuk suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu, penggunaan bahan bangunan mulai dari pondasi bangunan, dinding, lantai, penyekat ruangan sampai operasional peralatan. Dianjurkan agar bangunan di desain berdinding tipis serta memiliki sistem ventilasi udara yang baik, pengurangan konsentrasi sejumlah gas/partikel dan mikroorganisme di dalam ruangan dapat dilakukan dengan pemberian tekanan yang cukup besar didalam ruang, peningkatan sirkulasi udara sering kali menjadi upaya yang sangat efektif untuk mengurangi polusi dalam ruangan. Demikian juga dengan AC secara rutin harus selalu dilakukan pembersihan. Kebutuhan para penghuni ruangan untuk merokok tidak dapat dihindari, perlu disediakan ruangan khusus yang berventilasi cukup, jika tidak memungkinkan untuk meninggalkan gedung. Hal ini untuk mencegah komulasi asap rokok yang mempunyai andil dalam memicu fenomena Sick Building Syndrome.
B. . Kenyamanan Termal
Kenyamanan termal sangat dibutuhkan tubuh agar manusia dapat beraktifitas dengan baik (di rumah, sekolah ataupun di kantor/tempat bekerja). Koenigsberger dalam buku Manual of Tropical Housing and Building (1973) menyebutkan kenyamanan tergantung pada variabel iklim (matahari/radiasinya, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin) dan beberapa faktor individual/subyektif seperti pakaian, aklimatisasi, usia dan jenis kelamin, tingkat kegemukan, tingkat kesehatan, jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta warna kulit. ASHRAE (American Society of Heating Refrigating Air Conditioning Engineer) memberikan definisi kenyamanan thermal sebagai kondisi pikir yang meng ekspresikan tingkat kepuasan seseorang terhadap lingkungan termalnya. Apabila dihubungkan dengan bangunan, kenyamanan didefinisikan sebagai keadaan tertentu yang menghasilkan perasaaan menyenangkan bagi penghuninya (Karyono, 1989).
Sementara itu, batas kenyamanan untuk kondisi khatulistiwa adalah pada kisaran suhu udara 22,5ºC - 29ºC. Nilai kenyamanan tersebut harus dipertimbangkan dengan kemungkinan kombinasi antara radiasi panas, suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan udara. Penyelesaian yang dicapai menghasilkan suhu efektif (TE). Suhu efektif ini diperoleh dengan percobaan percobaan yang mencakup suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan udara. Menurut penyelidikan, batas-batas kenyamanan untuk kondisi khatulistiwa adalah 19ºTE (batas bawah) - 26ºTE (batas atas). Pada suhu 26ºTE, banyak manusia mulai berkeringat. Sementara itu kemampuan kerja manusia mulai menurun pada suhu 26,5ºTE - 30ºTE. Kondisi lingkungan mulai sulit bagi manusia pada suhu 33,5ºTE – 35,5ºTE dan tidak memungkinkan lagi pada suhu 35ºTE - 36ºTE (Lippsmeir, 1994). Di Indonesia, perancangan system ventilasi dan penkondisian udara dalam gedung telah diatur berdasarkan SNI 03-6572-2001. Pada aturan tersebut ditentukan standar kenyaman termal Indonesia mengacu pada terbagi atas tiga tingkatan, yakni:
1. Sejuk nyaman, 20,5°C – 22,8°C, kelembaban relatif 50%-80%.
2. Nyaman optimal 22,8°C – 25,8°C, kelembaban relatif 70%-80%
3. Hampir nyaman 25,8°C – 27,1°C, kelembaban relatif 60%-70%.
Untuk daerah tropis, kelembaban udara relatif yang dianjurkan antara 40% ~ 50%, tetapi untuk ruangan yang jumlah orangnya padat seperti ruang pertemuan, kelembaban udara relatif masih diperbolehkan berkisar antara 55% ~ 60%. Untuk mempertahankan kondisi nyaman, kecepatan udara yang jatuh diatas kepala tidak boleh lebih besar dari 0,25 m/detik dan sebaiknya lebih kecil dari 0,15 m/detik (SNI 03-6572-2001).
C. Penggunaan Dari Air Conditioner (AC)
AC atau Air Conditioner adalah sebuah alat yang dapat berfungsi mengkondisikan udara dengan cara mengontrol temperatur udara dalam ruang tertentu. AC mengubah keadaan suhu udara panas ke udara yang bersuhu dingin dalam sebuah ruangan sehingga ruangan menjadi lebih nyaman. Alat ini dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pendingin karena dalam AC terdapat banyak komponen, baik mekanis maupun elektris yang membutuhkan sumber energi yang cukup besar dan tingkat perawatan tinggi. Komponen utama AC terdiri atas kompresor, kondensor, pipa kapiler dan evaporator.
Para perencana bangunan perlu memahami konsep penghawaan buatan agar rancangan mereka dapat membuat AC bekerja dengan efisien dan efektif. Pada dasarnya, jika lingkungan luar terasa tidak nyaman maka perlu dipertimbangkan penggunaan system penghawaan buatan yakni AC. Penghawaaan buatan jika direncanakan dengan baik, maka akan mendatangkan beberpa keuntungan, diantaranya (Satwiko, 2016):
1. Suhu udara lebih mudah diatur
2. Kecepatan dan arah angin mudah diatur
3. Kelembaban mudah diatur
4. Kebersihan udara dapat dijaga
5. Diperoleh kenyamanan akustik dan ketenangan karena ruangan AC umumnya tertutup
6. Serangga terbang dapat dicegah masuk ke dalam ruangan
7. AC keluaran terbaru dilengkapi dengan pembangkit ion negatif yang dapat membunuh bakteri, jamur, dan mengikat bau serta memberikan efek segar pada ruang.
Sedangkan kekurangan AC yang utama terletak pada penggunaan energi yang boros serta AC yang tidak dirawat dan dibersihkan secara berkala menjadi tempat berkembang biaknya bakteri-bakteri dan bertumpuknya polutan kimia yang dapat mengganggu kesehatan. Prinsip utama mesin penyejuk AC adalah mengangkut kalor dari lokasi ke lokasi lain. Dalam konteks bangunan, tugas AC adalah mengangkat kelebihan kalor dari dalam ruang ke luar ruang. (Satwiko, 2016).
Sehingga semakin banyak kalor yang diangkut, maka semakin berat tugas AC. Jika ingin menghemat penggunaan AC, maka harus dipaktikan bahwa beban AC yakni perpindahan panas adalah sekecil-kecilnya. Agar AC bekerja dengan baik, perlu dilakukan penyesuaian kapasitas AC dengan kebutuhan AC pada ruang.
Terdapat 3 faktor yang perlu diperhatikan pada saat menentukan kebutuhan kapasitas AC pada suatu ruangan, yakni daya pendingin AC (BTU/jam – British Thermal Unit per hour), daya listrik yang dipakai (watt), dan PK compressor AC. Secara umum orang mengenal angka PK (Paard Kracht/Daya Kuda/Horse Power) pada AC. Sebenarnya PK adalah satuan daya pada compressor AC bukan daya pendingin AC. Namun PK lebih dikenal luas di masyarakat dibandingkan satuan BTU/jam. Untuk sistem tata udara adanya Peraturan Menteri ESDM No.14 Tahun 2012 Bab III tentang pelaksanaan penghematan energi, mengatur bahwa suhu ruang kerja diatur antara 24OC hingga 27OC dengan kelembaban relatif antara 55% hingga 65%. Selain pengaturan suhu udara dan kelembaban udara, kapasitas penggunaan AC juga harus dihitung untuk agar kebutuhan AC sesuai dengan standar yang dianjurkan, hal ini berpengaruh besar pada penggunaan energi dan kinerja AC itu sendiri.
Berikut ini beberapa langkah untuk menentukan ukuran kapasitas AC (Priyadi, 2009):
1. Hitung luas ruangan yang akan di pasang AC.
2. Berdasarkan luas ruangan tersebut, pilih kapasitas dasar AC yang dinyatakan dalam BTU/jam.
3. Untuk menentukan kapasitas AC yang dibutuhkan maka kapasitas dasar AC seperti pada tabel di atas harus dikoreksi dengan suatu faktor yang besarnya tergantung pada:
a. Posisi tembok/dinding ruangan yang terpanjang, jika tembok menghadap ke timur faktor koreksi adalah 0,95.
b. Tinggi langit-langit ruangan. Bila langit-langit tingginya melebihi 10 ft (sekitar 3 meter) maka faktor koreksinya adalah 1,1.
c. Ruang tidak terkena cahaya langsung misalnya karena adanya peneduh yang cukup lebar dan bila AC umumnya digunakan pada malam hari, maka faktor koreksinya adalah 0,8.
Dampak Negatif Penggunaan AC
Beberapa dampak negatif disebabkan oleh penggunaan AC secara berkepanjangan yang diperoleh dari kuisioner, yaitu:
1. Sulitnya bekerja tanpa menyalakan AC
Sebanyak 52% responden menyatakan sulit bekerja tanpa menyalakan AC. Selain itu, faktor iklim yang tidak sesuai dengan standar kenyamanan membutuhkan AC untuk membantu pengguna ruang berkonsentrasi dalam bekerja.
2. Gangguan kesehatan
Hanya sedikit dari beberapa responden yang menyatakan mengalammi gangguan kesehatan seperti sulit bernapas, sakit kepala dan rasa lelah yang berkepanjangan yaitu sekitar 12%. Sedangkan 52% diantaranya mengatakan tidak setuju dan sisanya netral.
3. Kehilangan kelembaban kulit
Gangguan yang paling sering dialami pengguna di ruangan ber-AC adalah kehilangan kelembaban kulit. Hal ini dikarenakan udara dari AC yang secara terus-menerus berhembus mengenai kulit, sehingga kadar kelembaban kulit menjadi berkurang. 10 orang atau 40% responden mengatakan mengalami hal tersebut sedangkan 10% tidak setuju dan sisanya netral.
4. Sulit mentolerir suhu panas
Gangguan seperti sulit mentolerir suhu panas disebabkan oleh penggunaan AC yang secara terus-menerus sehingga membuat pengguna merasa terbiasa dengan kondisi suhu dalam ruangan ber-AC. Sebanyak 52% diantaranya setuju dengan keadaan ini. Sedangkan responden yang tidak setuju berjumlah 4 % dan sisanya netral yang berjumlah 44%. Seperti diketahui suhu udara di Kendari yang tertinggi dapat mencapi 35oC, suhu udara ini berada di atas ambang batas kenyamanan termal berdasarkan standar SNI, sehingga penggunaan AC diperlukan untuk menurunkan suhu udara tersebut sehingga sesuai dengan ambang batas nyaman.
5. Gangguan lainnya
Gangguan yang paling sedikit dirasakan oleh pengguna ruangan ber-AC adalah lebih sering merasa gugup yaitu berjumlah 8%. Sedangkan keadaan memperparah kondisi penyakit hanya berjumlah 24% saja.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengendalian Pencemaran Udara
Pengendalian pencemaran udara adalah setiap usaha atau kegiatan dari sumber bergerak, sumber tiddak bergerak dan kegiatan lainnya selalu menghasilkan pollutan maka wajib melakukan pengendalian pencemaran udara, agar kualitas udara ambien dan mutu udara emisi, tingkat kebisingan, getaran dan kebauan sesuai dengan baku mutu tetap memenuhi kesehatan.
Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi di dalam rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran maka disebut sebagai pencemaran dalam ruang (indoor pollution). Sedangkan bila pencemarannya terjadi di lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional maka disebut sebagai pencemaran di luar ruang (outdoor pollution).
Pengendalian adalah segala macam upaya baik secara administrasi dan teknik untuk pencegahan dan upaya penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan kualitas udara.
Ruang lingkup pengendalian pencemaran udara yaitu :
1. Pencegahan adalah setiap bentuk upaya yang dilakukan sebelum terjadinya dampak pencemaran udara.
2. Penanggulangan adalah semua upaya yang dilakukan setelah terjadi dampak pencemaran udara agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir.
3. Pemulihan adalah upaya yang dilakukan setelah terjadinya dampak, sehingga diharapkan tidak akan lebih buruk dampaknya.
B. Tinjauan tentang udara dalam ruangan (indoor)
1. Definisi udara dalam ruangan
Menurut NHMRC (1989,1993), udara dalam ruangan adalalah udara di dalam area kerja dimana orang menghabiskan waktu selama 1 hari atau lebih dan bukan merupakan gedung industri. Yang termasuk area tersebut antara lain tempat penghuni (rumah, kantor ,dan rumah sakit. Sedangkan pengertian kualitas udara dalam ruangan menurut EPA (1991) adalah hasil interaksi antara tempat, suhu, system gedung (baik desain asi maupun modifikasi terhadap struktur dan system mekanik), teknik kontruksi, sumber kontaminan (material, peralatan gedung serta sumber dari luar) dan pekerja.
Menurut Environmental Protection Agency (EPA), indoor air pollution adalah hasil interaksi antara tempat, suhu, sistem gedung (baik desain asli maupun modifikasi terhadap struktur dari sistem mekanik), teknik konstruksi, sumber kontaminan (material, peralatan gedung) serta sumber dari luar) dan pekerja (Joviana, 2009). Udara dalam ruangan adalah media perantara yang mana manusia, bangunan dan iklim saling mempengaruhi. Kesehatan dan kesejahteraan manusia ditentukan oleh faktor fisik, kimia dan biologis yang terkandung dalam udara dalam ruangan.
Secara umum pencemaran udara ruangan (Indoor air pollution), berupa pencemaran udara didalam ruangan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung tinggi.
2. Baku mutu udara dalam ruangan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/Menkes/Per/V/2011 tentang persyaratan kualitas udara dalam ruang.
3. Parameter kualitas udara dalam ruangan
a. Parameter Fisik
1) Particulate Matter
Debu partikulat merupakan salah satu polutan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara ( suspended particulate matter/spm) dengan ukuran satu micron samapai dengan 500 mikron. Dalam kasus pecemaran udara baik dalam maupun di ruang gedung (indor dan outdoor pollutan) debu sering dijadikan salah satu indicator pencemaran yang digunakan untuk menunjukkan tingkat bahaya baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan dan keselamatan kerja Partikel debu akan ada di udara dalam waktu yang relative lama dengan keadaan melayang-layang di udara kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan.
2) Suhu
Definisi suhu yang nyaman (thermal comfort) menurut ASHRAE adalah suatu kondisi yang dirasakan dan menunjukkan kepuasam terhadap suhu yang ada di lingkungan Untuk pekerja kantor dimana pekerjaan yang berulang-ulang selama beberapa jam, aktivitas personal, pakaian, tingkat kebugaran, dan pergerakan udara merupakan factor yang cukup berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap kenyamanan suhu. Sedangkan kelembapan aktif juga turut berpengaruh terhadap suhu dimana kelembaban yang rendah akan membuat suhu semakin dingin dan begitu juga sebaliknya.(BiNardi 2003)
3) Kelembaban Relatif (Relative Humadity /RH)
Kelembaban udara yang ekstrim dapat berkaitan dengan buruknya kualitas udara. RH yang rendah dapat mengakibatkan terjadinya gejala SBS seperti iritasi mata, iritasi tenggorokan dan batuk-batuk .
Menurut SK Gubernur No.54 tahun 2008 tahun 2002, agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan, bila kelembaban udara ruang. 60 % perlu menggunakan alat dehumidifier, dan bila < 40 % perlu menggunakan humidifier misalnya mesin pembentikan aerasol.
4) Pencahayaan
Cahaya merupakan pencaran gelombang elektromagnetik yang melayang melewati udara, iluminasi merupakan jumlah atau kualitas cahaya yang jatuh kesuatu permukaan. Apabila suatu gedung tingkat ilmunasinya tidak memenuhi syarat maka dapat menyebabkan kelelahan mata. ( Spengler et al.2000)
5) Kecepatan Aliran Udara
Pergerakan udara yang tinggi akan mengakibatkan menurunnya suhu tubuh dan menyebabkan tubuh mersakan suhu yang lebih rendah. Namun apabila kecepatan aliran udara stagnan ( minimal air movement) dapat membuat terasa sesak dan buruknya kualiatas udara ( BiNardi 2003)
6) Bau
Bau merupakana salah satu permsalahan buruknya kualitas udara yang dapat dirasakan dengan jelas. Jenis bau dapat berasal dari tubuh manusia, bau asap rokok,bau masakan,dan sebagainya.
7) Kebisingan
Menurut Kepmen No.48 tahun 1996, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan ganguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.
b. Parameter Biologi
Mikrooragbisme dapat muncul dalam waktu dan tempat yang berbeda. Penyebaran lewat udara, mikroorganisme harus mempunyai habitat untuk tumbuh dan berkembang biak (tillman, 2007). Seringkali sering kali ditemui di sistem ventilasi atau karpet yang terkontaminasi.
1) Jamur
Menurut Hargreaves dan Parappukkaran (1999) menyatakan bahwa pajajan terhadap khamir dan kapang terjadi setiap hari, namun ada 3 faktor yang mempengaruhi populasi fungi adalah teknik konstruksi yang buruk, kegagalan dalam mengidentifikasi atau memperbaiki kerusakan dalam mengoperasikan dan menjaga sistem AC.
c. Parameter Kimia
1) Karbon Dioksida (CO2)
Sumber CO2 yang terbanyak berasal dari hasil ekshalasi udara hasil pernapasan manusia, namun Environmenta Tobacco Smoke (ETS) juga dapat menjadi sumber CO2. Nilai ambang batas CO2 yang diperbolehkan menurut OSHA adalah 500 ppm. Pada dasarnya CO2 tidak menimbulkan efek kesehatan yang berbahaya apabila berada pada konsentrasi diatas 550 ppm namun jika berada pada konsentrasi diatas 800ppm, CO2 dapat mengindikasikan kurangnya udara segar dan buruknya percampuran udara pada area pengguna gedung.
Upaya pengendalian CO2 dalam ruangan adalah dengan menyesuaikan supply udara dalam ruangan tergantung dari tingkat kegunaan ruang yang bervariasi, selain itu sirkulasi udara dalam ruangan dengan luar ruangan juga harus ditingkatkan (Binardi, 2003).
2) Karbon Monoksida (CO)
Pengendalian CO pada udara dalam ruangan antara lain dengan pembatasan merokok, menerapkan system ventilasi yang sesuai pada area parkir, dan penempatan udara-udara masuk seperti exhaust pada loading docks, dan area parker (Binardi 2003).
3) Nitrogen dan Sulfuroksida (Nox dan Sox)
Nitrogen oksida merupakan pencemar. Sekitar 10% pencemar udara setiap tahun adalah nitrogen oksida. NO yang ada diudara belum lama diketahui, kemungkian sumbernya berasal dari pembakaran pada suhu tinggi. (Pudjiastuti, 1998).
Yang berhubungan dengan pencemaran udara adalah NO dan NO2adalah pemanas dan peralatan masak, pemanas dari minyak tanah dan asap rokok.Pada konsentrasi di atas 200 ppm, NO2 dapat mengakibatkan acute pulmonary edema serta acute building-related diseasae, dan kematian (Binardi 2003)
4) Environmental Tobacco Smoke ( ETS )
Sebagai pencemar dalam ruangan, asap rokok (Environmental Tobacc Smoke ) merupakan bahan pencemar yang biasanya mempunyai kuantitas paling banyak dibandingkan dengan pencemar lain.
5) Fiber
Beberapa studi menunjukan bahwa pajanan fiber glass dapat meningkatkan risiko kanker saluran pernafasan, meskipun bukan factor signifikan. Disamping efek kronis, efek akut sepert ruam wajah, gatal –gatal, iritasi mata dan pernafasan juga dapat disebabkan oleh pajanan fiber glass. Pengendalian pajanan ini dapat dimulai dari pemeliharaan instalasi fiber glass, seperti pembersihan bahan – bahan fiber glass agar tetap terawatt dan berada dalam kondisi bagus.
6) Ozon (O3)
Peralatan kerja yang dapat mengeluarkan ozon antara lain; printer lazer, lampu UV, mesin photo copy dan ionizer. Ozon merupakan gas yang sangat beracun dan mempunyai efek pada konsentrasi rendah. Ozon dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernafasan. Ozon merupakan gas yang sangat mudah bereaksi namun hanya mempunyai pengaruh yang kecil pada lingkungan udara dalam ruang kerja.
7) Formaldehyde ( HCHO)
Formaldehyde digunakan secara besarbesaran dalam berbagai proses industri, merupakan volatile organic compounds ( senyawa organic yang mudah menguap) yang sering terdapat pada bahan perekat, tekstil, kertas maupun produk – produk tekstil dan kosmetik. Pada dosis atau pajama yang melebihi nilai 103 ppm akan menyebabkan iritasi selaput lendir, gangguan kulit kering secara kronik maupun akut. Selain itu, pajanan yang melebihi nilai 1 ppm akan menyebabkan pajanan kronis dan diduga bersifat karsiogenik.
8) Radon
Dipasaran beredar beberapa jenis bahan bangunan yang terbuat dari bahan tamb ang maupun sisa pengolahan bahan tambang maupun sisa pengolahan bahan tambang yang berkadar radioaktif tinggi. Beberapa bahan tersebut antara lain asbes, garnit, Italian tuff, gipsum, batu bata dari limbah pabrik alumunia, cone block, yang terbuat dari limbah abu batubara, acrated concrete, blast-furnace slag dari limbah pabrik besi, mengandung konsentrasi tinggi radium 226 yang dapat menjadi sumber migrasi radon didalam ruangan ( Pudjiastutu et.al. 1998 ).
4. Sumber pencemar udara dalam ruang
Menurut NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health), terdapat lima sumber pencemaran udara dalam ruangan:
a. Pencemaran dari dalam gedung seperti asap rokok, pestisida, bahan-bahan pembersih ruangan.
b. Pencemaran dari luar gedung yang dapat masuk ke dalam ruangan seperti gas buangan kendaraan bermotor, gas cerobong asap atau dapur yang terletak dekat gedung umumnya disebabkan karena penempatan lokasi lubang udara yang tidak tepat.
c. Pencemaran akibat bahan bangunan, seperti formaldehid, lem, asbes, fiberglass, dan bahan lain yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut.
d. Pencemaran akibat mikroba berupa bakteri, jamur, protozoa, dan produk mikroba lainnya yang ditemukan di saluran udara serta alat pendingin beserta seluruh sistemnya.
e. Gangguan ventilasi udara berupa kurangnya udara segar yang masuk serta buruknya distribusi udara dan kurangnya perawatan sistem ventilasi udara.
5. Penyegaran udara udara dalam ruangan
Dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. Dan juga dalam penyegaran udara dalam ruang agar dapat merasakan nyaman dapat menggunakan AC,kipas angin dan vrentilasi
Sumber dari pencemaran udara ruangan berasal dari asap rokok, pembakaran asap dapur, bahan baku ruangan, kendaraan bermotor dan lain-lain yang dibatasi oleh ruangan. Pencegahan pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan :
a. Ventilasi yang sesuai, yaitu usahakan polutan yang masuk ruangan seminimum mungkin. Tempatkan alat pengeluaran udara dekat dengan sumber pencemaran. Usahakan menggantikan udara yang keluar dari ruangan sehingga udara yang masuk ke ruangan sesuai dengan kebutuhan.
b. Filtrasi yaitu dengan memasang filter dipergunakan dalam ruangan dimaksudkan untuk menangkap polutan dari sumbernya dan polutan dari udara luar ruangan.
c. Pembersihan udara secara elektronik. Udara yang mengandung polutan dilewatkan melalui alat ini sehingga udara dalam ruangan sudah berkurang polutannya atau disebut “bebas polutan”.
C. Beberapa gejala yang tampak yang dapat dijadikan indikasi terdapat SBS adalah :
Sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, kesulitan berkonsentrasi, kulit terasa kering serta batuk kering yang tidak kunjung sembuh.
Penyebab keluhan tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti
Setelah penghuni gedung meninggalkan gedung, keluhan tersebut biasanya tidak lagi dirasakan
D. Tips untuk mencegah timbulnya sick Building syndrome (SBS)
Berikut ini beberapa tips untuk mencegah timbulnya SBS :
Keluar gedung saat istirahat untuk menghirup udara segar
Tempatkan mesin fotokopi di ruangan dengan ventilasi yang baik
Buat ruangan khusus untuk merokok dan buat jalur ventilasi untuk asap buangannya sedemikian sehingga tidak tercampur dengan sirkulasi udara lainnya.
Bukalah jendela secara berkala untuk membantu proses pertukaran udara dalam dan udara luar .
Menjaga suhu dan kelembaban ruangan dalam batas dimana kontaminan biologis sulit bertahan hidup. (suhu 70oF dan kelembaban 40%-60%)
Laporkan bila ada gejala-gejala SBS
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada pengguna ruang ber-AC yang ada dilingkup ruang perkantoran , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Responden berjumlah 25 orang yang rata-rata bekerja 7-9 jam perhari di dalam ruangan ber-AC.
Sumber pencemaran udara dari dalam ruangan yaitu berasal dari asap rokok para pengguna ruangan tersebut.
Gangguan kesehatan seperti sakit kepala, sesak napas dan lainnya hanya 12% dirasakan oleh para responden.
Dampak negatif lainnya seperti kehilangan kelembaban kulit berjumlah 40 % dan sulit mentolerir suhu panas yaitu berjumlah 52 %. Gangguan seperti sering merasa gugup hanya berjumlah 8 % dan proses membuat kondisi semakin parah hanya dirasakan oleh 24 % responden saja.
Lebih lanjut, untuk mengurangi gangguan kesehatan yang timbul pada ruang kerja ber-AC dapat dilakukan dengan mendorong seluruh pekerja/karyawan untuk meningkatkan kebersihan lingkungan kerja, penataan ruangan kerja secara berkala.
Menurut NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health), terdapat lima sumber pencemaran udara dalam ruangan:
1) Pencemaran dari dalam gedung.
2) Pencemaran dari luar gedung.
3) Pencemaran akibat bahan bangunan.
4) Pencemaran akibat mikroba.
5) Gangguan ventilasi udara.
E. Penyegaran udara dalam ruang yaitu Udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. Dan juga
dalam penyegaran udara dalam ruang agar dapat merasakan nyaman dapat menggunnakan AC,kipas angin dan vrentilasi, serta Dan Pencegahan pencemaran udara yang berasal dari ruangan bisa dipergunakan :
1) Ventilasi yang sesuai,
2) Filtrasi yaitu dengan memasang filter.
3) Pembersihan udara secara elektronik.
Anies. 2015. Problem Kesehatan Masyarakat dan Sick Building Syndrome. Jakarta: Yarsi.
Komentar
Posting Komentar