MENGHITUNG KEPADATAN LALAT

 MATA KULIAH : PVBP-B

DOSEN : AIN KHAER, SST.,M.Kes

LAPORAN

MENGHITUNG KEPADATAN LALAT MENGGUNAKAN FLY GRILL




NUR FITRAH

PO714221181095



KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

PRODI SANITASI LINGKUNGAN

2020



KATA PENGANTAR

      Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah  memberikan kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan Laporan “Menghitung Kepadatan Lalat Menggunakan Fly Grill” Atas rahmat dan hidayah-nya lah penulis dapat menyelesaikan Laporan ini dengan tepat waktu.

     Laporan “ Menghitung Kepadatan Lalat Menggunakan Fly Grill” untuk memenuhi tugas Mata Kuliah “ Pengendalian Vektor & Binatang Pengganggu- B” Selain itu, penulis juga berharap agar Laporan ini dapat menambah wawasan bagi para pembaca.

    Penulis menyadari Laporan ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan Laporan ini.




Makassar, November 2020


Penulis 




DAFTAR ISI

SAMPUL ……………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN 

Latar Belakang ……………………………………………………………. 1

Tujuan …………………………………………………………………….. 1

Manfaat ………………………………………………………………….... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 

Pengertian Lalat …………………………………………………………… 2

Bionomik Lalat ……………………………………………………………. 2

BAB III METODE PRAKTIKUM

Waktu Dan Tempat ……………………………………………………….. 8

Alat Dan Bahan …………………………………………………………… 8

Prosedur Kerja …………………………………………………………….. 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ……………………………………………………………………… 9

Pembahasan …………………………………………………………..…. 10

BAB V PENUTUP

Kesimpulan ……………………………………………………………. 12

Saran …………………………………………………………………... 12

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN



BAB I 

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

     Lalat merupakan salah satu insektisida (serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membrane . Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (musca d0mestica), lalat hijau ( lucilia sertica) lalat biru (calliphora vomituria), dan lalat latrine (fannia canicularis). Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai vector penularan penyakit saluran pencernaan. Vector adalah arthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan agent infection dari sumber infeksi kepada host yang rentan (kunoputranto 2000). Penularan penyakit terjadi secara mekanis, dimana bulu-bulu badannya, kaki-kai serta bagian tubuh yang lain dari lalat merupakan tempat menempelnya mikroorganisme penyakit yang dapat berasaldari sampah, kotoran manusia maupun binatang. Bila lalat tersebut hinggap ke makanan manusia, maka kotoran tersebut akan mencemari makanan yang akan dimakan oleh manusia sehingga akhirnya akan timbul gejala sakit pada manusia yaitu sakit pada bagian perut serta lemas.

     Fly grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat, yang membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Prinsip kerja dari alat ini didasarkan pada sifat lalat yang menyukai hinggap pada permukaan benda yang bersudut tajam vertical. Lokasi yang perlu dilakukan pengukuran kepadatan lalat utamanya adalah perumahan dan rumah makan, keuntungan penggunaan flygrill diantaranya adalah mudah, cepat dan murah. Dengan demikian dapat dengan cepat menentukan kriteria suatu daerah potensial atau tidak. 

TUJUAN

Untuk memahami cara pengukuran tingkat kepadatan lalat

Untuk memahami berapa jumlah rata-rata tingkat kepadatan lalat yang ada dilokasi jl.cilallang 

Untuk mengetahui cara pengendalian lalat

MANFAAT

Dapat memahami cara pengukuran tingkat kepadatan lalat.

Dapat memahami berapa jumlah rata-rata tingkat kepadatan lalat yang ada dilokasi jl.cilallang .

Dapat mengetahui cara pengendalian lalat.



BAB II 

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Lalat

     Lalat merupakan salah satu insekta (serangga) yang termasuk ordo Dipthera, yaitu insekta yang mempunyai sepasang sayap berbentuk membran. Lalat mempunyai sifat kosmopolitan, artinya kehidupan lalat dijumpai merata hampir diseluruh permukaan bumi. Diperkirakan diseluruh dunia terdapat lebih kurang 85.000 jenis lalat, tetapi semua jenis lalat terdapat di Indonesia. Jenis lalat yang paling banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sertica), lalat biru (Calliphora vomituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis). Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat yaitu sebagai  vektor penularan penyakit saluran pencernaan.

     Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50 Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air). Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.

Siklus Hidup Lalat

Dalam kehidupan lalat dikenal ada 4 (empat) tahapan yaitu mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1 mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120–130 telur dan menetas dalam waktu 8–16 jam .Pada suhu rendah telur ini tidak akan menetas (dibawah 12 –13 º C). Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir dari phase larva ini berpindah tempat dari yang banyak makan ke tempat yang dingin guna mengeringkan tubuhnya, Setelah itu berubah menjadi kepompong yang berwarna coklat tua, panjangnya sama dengan larva dan tidak bergerak. Phase ini berlangsung pada musim panas 3-7 hari pada temperatur 30–35 º C.

Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat terbang antara 450–900 meter, Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat dewasa 6-20 hari Lalat dewasa panjangnya lebih kurang ¼ inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya.

Beberapa hari kemudian sudah siap untuk berproduksi, pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan Lalat tidak kuat terbang menantang arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.

Tempat Perindukan Lalat

Tempat yang disenangi adalah tempat yang basah seperti sampah basah, kotoran binatang, tumbuh-tumbuhan busuk, kotoran yang menumpuk secara kumulatif (dikandang).

Kotoran Hewan

Tempat perindukan lalat rumah yang paling utama adalah pada kotoran hewan yang lembab dan masih baru (normal nya lebih kurang satu minggu).

Sampah dan sisa makanan dari hasil olahan

Disamping lalat suka hinggap juga berkembang baik pada sampah, sisa makanan, buahbuahan yang ada didalam rumah maupun dipasar.

Kotoran Organik

Kotoran organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia. Sampah dan makanan ikan adalah merupakan tempat yang cocok untuk berkembang biaknya lalat.

Air Kotor

Lalat Rumah berkembang biak pada pemukaan air kotor yang terbuka.

Pola Penyebaran Lalat

Pola Distribusi

     Musca domestica dan Chrysomya megachepala adalah lalat yang tersebar secara kosmopolitan dan bersifat sinantropik yang artinya lalat ini mempunyai hubungan ketergantungan yang tinggi dengan manusia karena zat-zat makanan yang dibutuhkan lalat sebagian besar ada pada makanan manusia. Lalat lebih aktif pada tempat yang terlindung dari cahaya daripada tempat yang langsung terkena cahaya matahari. Penyebaran yang luas dari kedua jenis lalat ini dimungkinkan karena daya adaptasinya yang tinggi. Kepadatan lalat di suatu daerah, sangat dipengaruhi oleh: tempat perindukan, cahaya matahari, temperatur dan kelembaban. Kepadatan lalat akan tinggi jika temperatur antara 20-25 C. Populasi menurun apabila temperatur > 450C dan < 100C. Pada temperatur yang sangat rendah, lalat tetap hidup dalam kondisi dorman pada stadium dewasa atau pupa. Kebiasaan & distribusi lalat pada Siang hari akan berada di sekitar tempat makan & tempat perindukan di mana juga terjadi perkawinan & istirahat. Penyebaran dipengaruhi oleh reaksinya terhadap cahaya, temperatur, kelembaban, textur dan warna permukaan yang disenangi untuk istirahat. Aktivitas lalat: bertelur, berkawin, makan dan terbang, terhenti pada temperature di bawah 15oC. Lalat umumnya aktif pada kelembaban udara yang rendah. Pada temperatur di atas 20oC lalat akan berada di luar rumah, di tempat yang ternaung dekat dengan udara bebas. Pada waktu tidak makan lalat akan istirahat pada permukaan horisontal atau pada kabel yang membentang atau tempat-tempat yang vertikal dan pada atap di dalam rumah khususnya malam hari.

Ketahanan Hidup

Tergantung pada musim dan temperatur: Lalat dewasa hidup 2-4 minggu pada musim panas dan lebih lama pada musim dingin yaitu bisa mencapai 3 bulan, mereka paling aktif pada suhu 32,50C dan akan mati pada suhu 450C. Lalat melampaui musim dingin (over wintering) sebagai lalat dewasa, dan berkembang biak di tempat-tempat yang relatif terlindung seperti kandang ternak dan gudang-gudang. Pada stadium telur biasanya tidak tahan terhadap suhu yang ekstrim dan akan mati bila berada dibawah 50C dan di atas 400C. Lamanya tahap instar larva sangat tergantung pada suhu dan kelembaban lingkungan.Pada suhu -20C larva dapat bertahan beberapa hari , di bawah suhu 100C larva tidak dapat berkembang menjadi pupa.

Ekologi Tentang Lalat

Dengan memahami ekologi lalat kita dapat menjelaskan peranan lalat sebagai karier penyakit dan dapat pula membantu kita dalam perencanaan pengawasan. Lalat dewasa aktif pada siang hari dan selalu berkelompok. Pada malam hari biasanya istirahat walaupun mereka dapat beradaptasi dengan cahaya lampu yang lebih terang.

Tempat peristirahatan

Pada Waktu hinggap lalat mengeluarkan ludah dan tinja yang membentuk titik hitam. Tanda-tanda ini merupakan hal yang penting untuk mengenal tempat lalat istirahat. Pada siang hari lalat tidak makan tetapi beristirahat di lantai dinding, langit-langit, rumputrumput dan tempat yang sejuk. Juga menyukai tempat yang berdekatan dengan makanan dan tempat berbiaknya, serta terlindung dari angin dan matahari yang terik. Didalam rumah, lalat istirahat pada pinggiran tempat makanan, kawat listik dan tidak aktif pada malam hari. Tempat hinggap lalat biasanya pada ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) meter.

Fluktuasi Jumlah lalat

Lalat merupakan serangga yang bersifat fototropik yaitu menyukai cahaya. Pada malam hari tidak aktif, namun dapat aktif dengan adanya sinar buatan. Efek sinar pada lalat tergantung sepenuhnya pada temperatur dan kelembaban jumlah lalat akan meningkat jumlahnya pada temperatur 20 º C – 25 º C dan akan berkurang jumlahnya pada temperatur < 10 º C atau > 49 º C serta kelembaban yang optimum 90 %.

Teknik Pengendalian dan Pemberantasan Lalat

Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan

Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan (Sitanggang, 2001).

Mengurangi atau menghilangkan tempat perndukan lalat.

Kandang ternak

Kandang harus dapat dibersihkan

Lantai kandang harus kedap air, dan dapat disiram setiap hari

Terdapat saluran air limbah yang baik (HAKLI, 2009).

Kandang ayam dan burung

Bila burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang perlu dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.

Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval (disarankan setiap hari) dibersihkan (DEPKES, 1992).

Timbunan kotoran ternak

Timbunan pupuk kandang yang dibuang ke permukaan tanah pada temperatur tertentu dapat menjadi tempat perindukan lalat. Sebagai upaya pengendalian, kotoran sebaiknya diletakkan pada permukaan yang keras/semen yang dikelilingi selokan agar lalat dan pupa tidak bermigrasi ke tanah sekelilingnya. Pola penumpukan kotoran sacara menggunung dapat dilakukan untuk mengurangi luas permukaan. Tumpukan kotoran sebaiknya ditutupi plastik untuk mencegah lalat meletakkan telurnya dan dapat membunuh larva karena panas yang diproduksi oleh tumpukan kotoranakibat proses fermentasi (HAKLI, 2009).

Kotoran Manusia

Jamban yang memenuhi syarat kesehatan sangat diperlukan guna mencegah perkembangbiakan lalat pada tempat-tempat pembuangan faces. Jamban setidaknya menggunakan model leher angsa dan berseptic tank. Selain itu, pada pipa ventilasi perlu dipasang kawat kasa guna mencegah lalat masuk dan berkembang biak di dalam septic tank (HAKLI, 2009).

Daerah-daerah pengungsian merupakan daerah yang sangat potensial untuk tempat perindukan lalat. Hal ini dikarenakan secara umum pada daerah tersebut jarang sekali ditemukan jamban-jamban yang memenuhi syarat kesehatan, bahkan banyak diantaranya yang hanya menggunakan lahan terbuka sebagai jamban. Sebaiknya, bila fasilitas jamban tidak ada/tidak sesuai, masyarakat pengungsi dapat melakukan buang air besar pada jarak ± 500 meter dengan arah angin yang tidak mengarah ke dekat tempat perindukan atau timbunan makanan dan 30 meter dari sumber air bersih dengan membuat lubang dan menutupnya secara berlapis agar tidak menimbulkan bau yang dapat merangsang lalat unutk datang dan berkembang biak (DEPKES, 1992).

Sampah basah dan sampah organic

Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah, dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditutup dengan tanah. Dalam cuaca panas, larva lalat ditempat sampah dapat menjadi pupa hanya dalam waktu 3 –4 hari (DEPKES, 1992).

Membersihkan sisa-sisa sampah yang ada di dasar tong sampah merupakan hal yang penting karena lalat masih dapat berkembang biak pada tempat tersebut. Pembuangan sampah akhir pada TPA yang terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah terlebih dahulu dan ditutup setiap hari dengan tanah setebal 15 – 30 cm. Hal ini bertujuan untuk penghilangan tempat perkembang biakan lalat. Lokasi tempat pembuangan akhir sampah adalah harus berjarak beberapa kilometer dari rumah penduduk(DEPKES, 1992).

Fly Grill

Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat, membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan pengembangan( < 50 Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem, Lilin,kipas Air). Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan. Lalat menyukai tempat – tempat yang berbau menyengat dan tempat yang cukup lembab. Sedangkanm warnayang disukai lalat adalah warna natural seperti warna coklat pada batang kayu dan warna hijau pada buah atau sayur segar.





BAB III

METODE PRAKTIKUM

Adapun jenis praktikum yang dilakukan adalah Pengukuran Kepadatan Lalat dengan menggunakan Fly Grill.

Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal       : Kamis,12 NOVEMBER 2020

Waktu                   : 10.00 – Selesai

Tempat                  : Jalan Cilallang, Kec.Rappocini, Kota Makassar

Alat dan Bahan

Fly Grill

Hand Counter

Hygrothermometer (Suhu dan Kelembaban)

Stopwatch

Kamera

ATK

Prosedur Kerja

Siapkan alat yang akan digunakan

Letakkan Fly Grill secara mendatar pada tempat yang sudah ditentukan

Pasang hygrothermometer dekat dengan Fly Grill

Kemudian hitung berapa jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut

Hitung selama 30 detik dengan menggunakan hand counter

Setelah selesai pindah ke tempat yang lain dengan jarak ± 10 meter dan lakukan selama 10 kali pengukuran

Setelah 30 detik pertama, catat hasil dan jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut pada kertas blanko yang telah disediakan, dan lakukan hal tersebut sebanyak 10 kali perhitungan

Kemudian ambil sebanyak 5 hasil perhitungan kepadatan lalat tertinggi, kemudian dirata-ratakan

Hasil rata-rata adalah angka kepadatan lalat dengan satuan ekor per block grill

Untuk kelengkapan informasi, perlu juga diadakan pengukuran suhu dan kelemababan untuk menghasilkan pengukuran yang optimal.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Dari praktikum pengukuran tingkat kepadatan lalat maka hasil yang kami dapatkan adalah sebagai  berikut :



TOTAL

        9+9,2 +3,2 / 3 = 7,13 ekor/ grill


Keterangan      :

Jadi nilai rata-rata tingkat kepadatan lalat yang ada disekitar jl. Cilallang jaya adalah 7.13ekor/grill.

Titik 1                       = 9

Titik 2                       = 9.2

Titik 3                       = 3,2

Rata – Rata           = 7 ekor/grill

Suhu dan kelembaban

Lokasi I : Jl. Cilallang Jaya No.24

Suhu: 29 derajat celcius

Kelembaban: 56%

Lokasi I : Jl. Cilallang Jaya No.33

Suhu: 31 derajat celcius

Kelembaban:50 %

Lokasi I : Jl. Cilallang Jaya VII

Suhu: 33 derajat celcius

Kelembaban:48 %


B. Pembahasan

       Berdasarkan praktikum tentang Pengukuran Kepadatan Lalat yang kami lakukan dapat dianlisa bahwa lalat yang berada di sekitar pemukiman jl. Cilallang jaya Kec.Rappocini didapatkan 7 ekor/grill dari  angka rata –rata populasi lalat. Dari hasil yang didapatkan lalat tersebut masuk dalam standar penilaian cukup (artinya lakukan penanganan pada tempat berkembang biaknya, jika perlu lakukan pengendalian ) sebagaimana di jelaskan pada PERMENKES No.50 Tahun 2017 tentang standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan untuk vector dan binatang pembawa penyakit serta pengendaliannya dikatakan bahwa nilai baku mutu lalat dari indeks populasi adalah <2 ekor/grill. Faktor-faktor  yang menjadi penyebab dari tingginya populasi lalat adalah:

-Titik I : hal yang mempengaruhi yaitu banyaknya buah mangga busuk sehingga mempengaruhi banyaknya kepadatan lalat. Indeks populasi lalat sebesar 9.

-Titik II : dalam hal ini yang menjadi pengukuran kami adalah tempat penjualan gorengan, ditempat itu banyak kulit pisang yang mengundang datangnya lalat. Indeks populasi lalat adalah 9,2

-Titik III: tempat pengukurannya di pinggir jalan, di tempat ini kepadatan lalat tidak terlalu banyak. Indeks popolasi lalat adalah 3,2

    Karena lalat di sekitar jl.cilallang tergolong dalam tingkat kepadatan dalam standar penilaian cukup (artinya lakukan penanganan pada tempat berkembang biaknya, jika perlu lakukan pengendalian )  maka perlu dilakukan cara pengendalian untuk mengurangi tingkat kepadatan lalat adalah sebagai berikut, Perbaikan Hygiene dan sanitasi lingkungan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam usaha menganggulangi berkembangnya populasi lalat baik dalam lingkungan peternakan maupun pemukiman. Selain murah dan sederhana juga efektif serta tidak menimbulkan efek-efek samping yang membahayakan lingkungan. Perbaikan sanitasi yang dilakukan seperti mengurangi atau menghilangkan tempat perindukan lalat, membersihkan sisa-sisa sampah yang berserahakan untuk penghilangan tempat perkembang biakan lalat, terdapat saluran air limbah yang baik. Jika pengendalian tersebut masih kurang efektif dalam pengendalian maka perlu di coba dengan metode fisik, biologi, kimia, dan pengelolaan lingkungan. Namun dengan metode kimia yang menggunakan pestisida merupakan pilihan terakhir setelah metode fisik dan biologi tidaksignifikan menurunkan populasi vector. Hal ini dikarenakan pemakaian bahan kimia yang terus menerus dapat mepercepat terjadinya resistensi serta dapat menimbulkan residu lingkungan yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.






BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

    Dari praktikum Pengukuran Tingkat Kepadatan Lalat yang dilakukan di sekitar JL. Cilallang  maka dapat disimpulkan bahwa cara pengukuran kepadatan lalat yaitu letakkan Fly Grill pada tempat yang sudah ditentukan sebagai tempat pengukuran, kemudian hitung jumlah lalat yang hinggap pada block grill dan hitung dalam waktu 30 detik dengan menggunakan hand counter, lakukan pengukuran selama 10 kali.Dan jumlah rata – rata tingkat kepadatan lalat yang ada disekitar jl. Cilallang adalah 7 ekor / grill dan tergolong dalam tingkat kepadatan cukup (artinya lakukan penanganan pada tempat berkembang biaknya, jika perlu lakukan pengendalian ) berdasarkan PERMENKES No.50 TAHUN2017 dengan nilai baku mutu intensitas kepadatan lalat <2. Maka dari itu cara pengendalian lalat adalah Perbaikan sanitasi yang dilakukan seperti mengurangi atau menghilangkan tempat perindukan lalat, membersihkan sisa-sisa sampah yang berserahakan untuk penghilangan tempat perkembang biakan lalat, terdapat saluran air limbah yang baik

B.Saran

    Sebaiknya para praktikum melakukan praktik ini dengan baik dan bersungguh-sungguh dalam menghitung angka kepadatan lalat, agar memperoleh hasil yang sesuai dengan kenyataan dan dapat melakukan pengendalian segera bagi lokasi yang memperoleh angka kepadatan lalat yang tinggi.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMERIKSAAN BORAKS SECARA KUALITATIF PADA BAKSO

Makalah Global warming